Maret 04, 2009
November 27, 2008
Mental Juara
suatu ketika saya nonton TV yang membahas tentang perawatan kuda Pacuan, menurut liputan itu biaya perawatannya mahal sekali, dan kalaupun kuda itu dijual juga mahal sekali. kuda itu begitu mendapat perhatian yang sangat spesial, kebersihan kandang terjaga, makanan terjaga dan diperhatikan gizinya, setiap waktu-waktu tertentu dicek kesehatanya, diberi vitamin, setiap pagi diajak jalan-jalan menghirup udara pagi, wow... spesial sekali, seolah-olah kuda ini tidak akan pernah merasakan penderitaan seumur hidupnya.
Pada kesempatan lain, saya nonton pacuan kuda, saya pikir inilah perlombaan kuda-kuda mahal itu, saya mau lihat bagaimana kuda-kuda yang begitu dimanjakan itu akan bertanding?. setelah melihat beberapa saat saya kaget juga, gak terpikir oleh saya ternyata penunggangnya tega memecut kuda itu, menghentak-hentakan kaki dan tanggannya seolah memaksa kuda itu untuk berlari lebih kencang.... lebih kencang.... dan lebih kencang, dan anehnya kuda yang biasa dimanjakan itu menuruti kemauan penunggangnya, dia lari tambah kencang.... tambah kencang.....dan tambah kencang....... dan akhirnya dia jadi pemenang........... wow... ngak nyangka ya.... gimana ceritanya dia bisa begitu tangguh padahal disisi lain kuda itu begitu dimanjakan, kenapa ketika kuda itu dihentak-hentak, diteriak-teriakin.... hea...hea.... hea.. kuda itu gak marah ya? gak ngambek... gak keluar arena...gak banting penunggangnya, atau berbuat yang engak-engak.....tapi tetap fokus pada garis finish.
Menurut saya sih sesuai namanya "Kuda Pacu", pastilah kuda itu kuda pilihan dan sudah ditempa sehingga memiliki mental juara. kalau di andaikan dengan manusia, pastilah ini manusia-manusia pilihan, pemimpin minimal pada komunitasnya, pemimpin perusahaan, dan pemimpin-pemimpin yang lain, yang memiliki mental juara, yang siap menerima pujian dan senang menerima kritikan. pemimpin seperti ini akan selalu mencari masukan, mempelajari kelemahan kepemimpinannya, menjadikan kritik sebagai cambuk pemacu, yang terpenting buat pemimpin-pemimpin seperti ini adalah kemenangan, kesuksesan dalam kepemimpinan yang berarti kesuksesan Lembaga.
Kata Pujanga "Keberanian yang sesungguhnya adalah seperti layang-layang, semakin kencang angin bertiup, semakin tinggi ia terbang", tentu bukan berarti semakin sombong dan angkuh, tapi tiupan anginlah yang akan membawanya terbang semakin tinggi, kritik, saran, masukanlah yang akan menghantarkannya menuju kesuksesan dan dekat dengan kesempurnaan kepemimpinan.selama Ia masih mau berpegang kuat pada senar/benang yang membuatnya terbang terarah, indah dan dapat dinikmati, maka Ia akan menjadi layang-layang yang diharapkan banyak orang, bukan layang-layang yang putus, terbang liar dan tidak tahu akan jatuh dimana. Demikian halnya Pemimpin, selama Ia masih mau berpegang pada Visi dan Misi, Ia akan menjadi pemimpin yang diharapkan banyak orang, yang dapat menjadi sandaran harapan semua stakeholder.
Keuletan adalah seperti bayi yang sedang belajar berjalan, bengkit lebih banyak dibanding jatuh, maka kesuksesan adalah milik kita.
Salam Sukses
Pada kesempatan lain, saya nonton pacuan kuda, saya pikir inilah perlombaan kuda-kuda mahal itu, saya mau lihat bagaimana kuda-kuda yang begitu dimanjakan itu akan bertanding?. setelah melihat beberapa saat saya kaget juga, gak terpikir oleh saya ternyata penunggangnya tega memecut kuda itu, menghentak-hentakan kaki dan tanggannya seolah memaksa kuda itu untuk berlari lebih kencang.... lebih kencang.... dan lebih kencang, dan anehnya kuda yang biasa dimanjakan itu menuruti kemauan penunggangnya, dia lari tambah kencang.... tambah kencang.....dan tambah kencang....... dan akhirnya dia jadi pemenang........... wow... ngak nyangka ya.... gimana ceritanya dia bisa begitu tangguh padahal disisi lain kuda itu begitu dimanjakan, kenapa ketika kuda itu dihentak-hentak, diteriak-teriakin.... hea...hea.... hea.. kuda itu gak marah ya? gak ngambek... gak keluar arena...gak banting penunggangnya, atau berbuat yang engak-engak.....tapi tetap fokus pada garis finish.
Menurut saya sih sesuai namanya "Kuda Pacu", pastilah kuda itu kuda pilihan dan sudah ditempa sehingga memiliki mental juara. kalau di andaikan dengan manusia, pastilah ini manusia-manusia pilihan, pemimpin minimal pada komunitasnya, pemimpin perusahaan, dan pemimpin-pemimpin yang lain, yang memiliki mental juara, yang siap menerima pujian dan senang menerima kritikan. pemimpin seperti ini akan selalu mencari masukan, mempelajari kelemahan kepemimpinannya, menjadikan kritik sebagai cambuk pemacu, yang terpenting buat pemimpin-pemimpin seperti ini adalah kemenangan, kesuksesan dalam kepemimpinan yang berarti kesuksesan Lembaga.
Kata Pujanga "Keberanian yang sesungguhnya adalah seperti layang-layang, semakin kencang angin bertiup, semakin tinggi ia terbang", tentu bukan berarti semakin sombong dan angkuh, tapi tiupan anginlah yang akan membawanya terbang semakin tinggi, kritik, saran, masukanlah yang akan menghantarkannya menuju kesuksesan dan dekat dengan kesempurnaan kepemimpinan.selama Ia masih mau berpegang kuat pada senar/benang yang membuatnya terbang terarah, indah dan dapat dinikmati, maka Ia akan menjadi layang-layang yang diharapkan banyak orang, bukan layang-layang yang putus, terbang liar dan tidak tahu akan jatuh dimana. Demikian halnya Pemimpin, selama Ia masih mau berpegang pada Visi dan Misi, Ia akan menjadi pemimpin yang diharapkan banyak orang, yang dapat menjadi sandaran harapan semua stakeholder.
Keuletan adalah seperti bayi yang sedang belajar berjalan, bengkit lebih banyak dibanding jatuh, maka kesuksesan adalah milik kita.
Salam Sukses
November 26, 2008
N.g.e.l.o.n.j.o.r
Selalu ada Hikmah dari sebuah kejadian, perpindahan susah dan senang dari satu tempat ke tempat lain. Naiknya market Notebook meningkatkankan penjualan pemain notebook, dan sedikit mengurangi pasar PC. Dulu ketika dollar 2.800 naik jadi 12.000, mendadak teman saya yang gak punya mobil bisa beli mobil karena Dia punya tabungan Dollar dan dia adalah salah satu orang yang mendapat keuntungan dari naiknya kurs dollar, sementara itu disisi lain puluhan pengusaha terkapar. Teman reseller saya mengatakan, dengan naiknya kurs dollar yang mengakibatkan naiknya harga barang dalam bentuk rupiah menjadi berkah baginya karena waktu kurs dollar setabil dia kalah bersaing dengan toko-toko besar yang pasang harga gila-gilaan, menjual harga yang sama kepada User dan Dealer, karena dollar naik, maka harga-harga menjadi tidak stabil dan karena harga yang tidak stabil, maka user menjadi sulit memperbandingkan harga hari ini dan besok, maka teman saya itu akhirnya bisa jualan dengan keuntungan yang lumayan. Banyak orang takut dengan gelombang, tapi tidak halnya dengan peselancar yang justru menunggu gelombang besar.
Sebuah kejadian akan selalu melahirkan pahlawan sekaligus pecundang, selama kita bisa bersahabat dengan lingkungan menjadikan kompetitor sebagai partner, mengurangi arogansi karena berbadan besar, mau sedikit menilik keluar melihat akibat dari kebijakan-kebijakan yang kita buat ternyata banyak makan korban, mau mengurangi umpatan, makian orang lain karena terganggu dengan strategi yang kita terapkan, maka yakinlah, layaknya orang tua bertangung jawab atas masa depan anaknya, maka demikian halnya TUHAN akan bertangung jawab atas Nasib kita, tinggal kita mau terima gak bentuk tanggung jawab Tuhan yang mungkin dalam bentuk lain.
Setiap kejadian akan mendewasakan kita dan membuat kita lebih bijaksana, orang yang pernah jatuh akan lebih bijaksana memandang kehidupan ini. Tidak sombong pada saat berjaya, tidak kejam saat berkuasa, tidak menjadi pelupa pada orang lain saat terkenal, dan tidak memberi vonis abadi, bahwa setiap orang berhak untuk berubah.
(dibaca saat melamun gak ada kerjaan, ketimbang ngelonjor “Ngelamun Jorok”)
Salam,
Made Sumiarta
http://prema-ananda.co.cc
Sebuah kejadian akan selalu melahirkan pahlawan sekaligus pecundang, selama kita bisa bersahabat dengan lingkungan menjadikan kompetitor sebagai partner, mengurangi arogansi karena berbadan besar, mau sedikit menilik keluar melihat akibat dari kebijakan-kebijakan yang kita buat ternyata banyak makan korban, mau mengurangi umpatan, makian orang lain karena terganggu dengan strategi yang kita terapkan, maka yakinlah, layaknya orang tua bertangung jawab atas masa depan anaknya, maka demikian halnya TUHAN akan bertangung jawab atas Nasib kita, tinggal kita mau terima gak bentuk tanggung jawab Tuhan yang mungkin dalam bentuk lain.
Setiap kejadian akan mendewasakan kita dan membuat kita lebih bijaksana, orang yang pernah jatuh akan lebih bijaksana memandang kehidupan ini. Tidak sombong pada saat berjaya, tidak kejam saat berkuasa, tidak menjadi pelupa pada orang lain saat terkenal, dan tidak memberi vonis abadi, bahwa setiap orang berhak untuk berubah.
(dibaca saat melamun gak ada kerjaan, ketimbang ngelonjor “Ngelamun Jorok”)
Salam,
Made Sumiarta
http://prema-ananda.co.cc
Oktober 16, 2008
Lakukan yang terbaik untuk Hidupmu
Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri
*************
Rekan-rekan sekalian, dalam kehidupan nyata banyak kita temukan hal senada, misalnya didunia dagang, ada yang menjual daging ayam mati, kenapa mereka menjualnya, karena toh yang makan bukan dia, Bakso yang dicampur daging tikus, hiii.... dengarnya aja sudah bikin mual, lalu kenapa orang tega menjualnya, mungkin jawabanya ya sama... karena toh yang makan bukan mereka, coba tanyakan kepada mereka yang menjual bakso yang dicampur daging tikus apakah mereka juga makan bakso itu? saya rasa jawabanya sudah pasti tidak.
Hal ini mungkin bisa menjadi satu bukti, bahwa tidak ada yang lebih peduli akan kehidupan/masa depan kita selain kita sendiri, atau sebaliknya "kita hanya tertarik pada diri kita sendiri, kita tertarik kalau berbicara prestasi kita, kehebatan kita, masa depan kita, bahkan pendapat kita sangat dipengaruhi oleh kepentingan kita, pengetahuan kita, dan hal-hal lain yang terkait dengan diri kita.
************
Karyawan menginginkan hasil yang terbaik dengan usaha yang minim, demikian juga bos. sehingga muncullah konflik yang pada akhirnya menurunkan kinerja personal maupun lembaga.lalu mata rantai itu berputar terbalik, lembaga tidak untung, sehingga tidak mampu memberikan yang terbaik untuk karyawan terlebih pada pemilik, lalu siapa yang paling dirugikan dalam hal ini? kalau kita tanya ke masing-masing pihak pastilah mereka yang mengaku paling dirugikan, itu artinya semua pihak akan dirugikan, apa penyebab hal ini, jawaban yang pasti adalah karena salah memberi beban nilai pada hak dan kewajiban
************
Apa kewajiban dan hak Karyawan? apa kewajiban dan hak lambaga (Bos)? hal ini tentunya sudah dibicarakan sebelum terjadinya ikatan kontrak kerja, namun secara umum kewajiban karyawan adalah memberikan kinerja yang terbaik, hak karyawan adalah menerima yang terbaik sesuai dengan kapasitasnya. lalu kewajiban lembaga adalah memberikan konpensasi yang terbaik, dan haknya adalah menerima yang terbaik dari karyawan sesuai dengan kapasitas yang diberikan.
Jika sekarang kedua belah pihak melupakan haknya dan sama-sama mengedepankan kewajibannya bukankah semua pihak akan menerima hak secara otomatis.
************
Pada Prakteknya banyak pihak saling menunggu untuk memberikan yang terbaik, lembaga menunggu kinerja terbaik karyawan dan karyawan menunggu konpensasi terbaik dari lembaganya. namun secara statistik kita semua harus sadari, bahwa jumlah lembaga yang tersedia dimuka bumi ini dengan jumlah pencari kerja (karyawan) yang ada, jumlahnya sangat jauh berbeda, jumlah pencari kerja jumlahnya ribuan kali lipat dibanding jumlah lembaga/perusahaan yang ada, dengan demikian tentunya perusahaan/lembaga lebih punya banyak pilihan untuk memilih karyawan yang terbaik.
************
Terlepas dari semua hal diatas, pada hakekatnya kita terlahir ke dunia ini untuk berbuat/ karma, sehingga kita mendapatkan hasil atas perbuatan kita atau atas apa yang kita perbuat (Pala). apapun yang kita lakukan pada dasarnya untuk kita sendiri, untuk kehidupan kita, untuk amalan kita, walaupun sepertinya kita melakukannya untuk orang lain, tapi sebenarnya akan kembali berpulang pada kita. misalnya kita memberi makan seorang anak gelandangan, sepertinya apa yang kita lakukan tadi untuk orang lain, tapi pada dasarnya kita berbuat itu semua untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra tentang siapa kita (kita orang baik), kita orang yang pengasih, untuk mendengar ucapan terimakasih yang tulus yang membahagiakan hati kita. dan jika kita percaya pada keberuntungan, keberkatan, kebahagiaan dunia akhirat, surga, maka untuk itulah kita melakukannya.
Demikian halnya dalam dunia kerja, kita melakukan pekerjaan dengan baik, jujur dan berprestasi, kita berpikir kita melakukannya semata-mata hanya untuk menguntungkan perusahaan, sehingga kita MINTA untuk dihargai. Padahal apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra kita dimata lembaga, masyarakat terlebih di mata TUHAN. Perkataan kita, sikap, perbuatan, pola pikir kita akan mencitrakan tentang siapa kita, kita ingin dikenal dengan citra seperti apa. apakah kita ingin dikenal sebagai orang yang menyenangkan, orang yang tulus (tidak itungan), orang yang cerdas, orang yang bisa dipercaya, orang yang bisa diberi tanggungjawab, atau kita ingin dikenal sebagai orang yang tidak performance, sulit diajak kerja sama, keras kepala, berbahaya. semua itu sangat bergantung bagaimana kita mencitrakan diri kita. Hanya orang yang peduli pada nasibnyalah yang akan peduli pada orang lain dan lingkungannya.
*************
Kita semua tentunya pernah menjadi orang yang ikut menentukan apakah seseorang layak menjadi rekan kerja kita, menjadi pemimpin kita, dsb. misalnya kita mungkin pernah ikut dalam pemilihan kepala desa, tentunya kita punya kreteria sebelum menentukan pilihan. ternyata demikian halnya didalam sebuah lembaga, untuk penentuan kenaikan Gaji, kenaikan Jabatan, pemberian penghargaan, lembaga akan menilai dari berbagai aspek, baik aspek pribadi maupun aspek profesional. apapun yang kita lakukan akan akan menjadi buah untuk diri kita. semua yang ada diluar diri kita adalah cermin untuk kita, ia memantulkan bahkan gerakan sekecil apapun yang kita lakukan, jika kita menjulurkan lidah kita, maka itu yang akan kita lihat dihadapan kita, jika kita mencaci, maka itu yang akan kita dengar, jika kita memuji maka pujianlah yang kita dengar, jika kita menghargai, maka penghargaanlah yang akan kita terima.
**************
Jika kita mengharapkan yang terbaik, maka lakukan hal-hal yang terbaik pula.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.
Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri
*************
Rekan-rekan sekalian, dalam kehidupan nyata banyak kita temukan hal senada, misalnya didunia dagang, ada yang menjual daging ayam mati, kenapa mereka menjualnya, karena toh yang makan bukan dia, Bakso yang dicampur daging tikus, hiii.... dengarnya aja sudah bikin mual, lalu kenapa orang tega menjualnya, mungkin jawabanya ya sama... karena toh yang makan bukan mereka, coba tanyakan kepada mereka yang menjual bakso yang dicampur daging tikus apakah mereka juga makan bakso itu? saya rasa jawabanya sudah pasti tidak.
Hal ini mungkin bisa menjadi satu bukti, bahwa tidak ada yang lebih peduli akan kehidupan/masa depan kita selain kita sendiri, atau sebaliknya "kita hanya tertarik pada diri kita sendiri, kita tertarik kalau berbicara prestasi kita, kehebatan kita, masa depan kita, bahkan pendapat kita sangat dipengaruhi oleh kepentingan kita, pengetahuan kita, dan hal-hal lain yang terkait dengan diri kita.
************
Karyawan menginginkan hasil yang terbaik dengan usaha yang minim, demikian juga bos. sehingga muncullah konflik yang pada akhirnya menurunkan kinerja personal maupun lembaga.lalu mata rantai itu berputar terbalik, lembaga tidak untung, sehingga tidak mampu memberikan yang terbaik untuk karyawan terlebih pada pemilik, lalu siapa yang paling dirugikan dalam hal ini? kalau kita tanya ke masing-masing pihak pastilah mereka yang mengaku paling dirugikan, itu artinya semua pihak akan dirugikan, apa penyebab hal ini, jawaban yang pasti adalah karena salah memberi beban nilai pada hak dan kewajiban
************
Apa kewajiban dan hak Karyawan? apa kewajiban dan hak lambaga (Bos)? hal ini tentunya sudah dibicarakan sebelum terjadinya ikatan kontrak kerja, namun secara umum kewajiban karyawan adalah memberikan kinerja yang terbaik, hak karyawan adalah menerima yang terbaik sesuai dengan kapasitasnya. lalu kewajiban lembaga adalah memberikan konpensasi yang terbaik, dan haknya adalah menerima yang terbaik dari karyawan sesuai dengan kapasitas yang diberikan.
Jika sekarang kedua belah pihak melupakan haknya dan sama-sama mengedepankan kewajibannya bukankah semua pihak akan menerima hak secara otomatis.
************
Pada Prakteknya banyak pihak saling menunggu untuk memberikan yang terbaik, lembaga menunggu kinerja terbaik karyawan dan karyawan menunggu konpensasi terbaik dari lembaganya. namun secara statistik kita semua harus sadari, bahwa jumlah lembaga yang tersedia dimuka bumi ini dengan jumlah pencari kerja (karyawan) yang ada, jumlahnya sangat jauh berbeda, jumlah pencari kerja jumlahnya ribuan kali lipat dibanding jumlah lembaga/perusahaan yang ada, dengan demikian tentunya perusahaan/lembaga lebih punya banyak pilihan untuk memilih karyawan yang terbaik.
************
Terlepas dari semua hal diatas, pada hakekatnya kita terlahir ke dunia ini untuk berbuat/ karma, sehingga kita mendapatkan hasil atas perbuatan kita atau atas apa yang kita perbuat (Pala). apapun yang kita lakukan pada dasarnya untuk kita sendiri, untuk kehidupan kita, untuk amalan kita, walaupun sepertinya kita melakukannya untuk orang lain, tapi sebenarnya akan kembali berpulang pada kita. misalnya kita memberi makan seorang anak gelandangan, sepertinya apa yang kita lakukan tadi untuk orang lain, tapi pada dasarnya kita berbuat itu semua untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra tentang siapa kita (kita orang baik), kita orang yang pengasih, untuk mendengar ucapan terimakasih yang tulus yang membahagiakan hati kita. dan jika kita percaya pada keberuntungan, keberkatan, kebahagiaan dunia akhirat, surga, maka untuk itulah kita melakukannya.
Demikian halnya dalam dunia kerja, kita melakukan pekerjaan dengan baik, jujur dan berprestasi, kita berpikir kita melakukannya semata-mata hanya untuk menguntungkan perusahaan, sehingga kita MINTA untuk dihargai. Padahal apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra kita dimata lembaga, masyarakat terlebih di mata TUHAN. Perkataan kita, sikap, perbuatan, pola pikir kita akan mencitrakan tentang siapa kita, kita ingin dikenal dengan citra seperti apa. apakah kita ingin dikenal sebagai orang yang menyenangkan, orang yang tulus (tidak itungan), orang yang cerdas, orang yang bisa dipercaya, orang yang bisa diberi tanggungjawab, atau kita ingin dikenal sebagai orang yang tidak performance, sulit diajak kerja sama, keras kepala, berbahaya. semua itu sangat bergantung bagaimana kita mencitrakan diri kita. Hanya orang yang peduli pada nasibnyalah yang akan peduli pada orang lain dan lingkungannya.
*************
Kita semua tentunya pernah menjadi orang yang ikut menentukan apakah seseorang layak menjadi rekan kerja kita, menjadi pemimpin kita, dsb. misalnya kita mungkin pernah ikut dalam pemilihan kepala desa, tentunya kita punya kreteria sebelum menentukan pilihan. ternyata demikian halnya didalam sebuah lembaga, untuk penentuan kenaikan Gaji, kenaikan Jabatan, pemberian penghargaan, lembaga akan menilai dari berbagai aspek, baik aspek pribadi maupun aspek profesional. apapun yang kita lakukan akan akan menjadi buah untuk diri kita. semua yang ada diluar diri kita adalah cermin untuk kita, ia memantulkan bahkan gerakan sekecil apapun yang kita lakukan, jika kita menjulurkan lidah kita, maka itu yang akan kita lihat dihadapan kita, jika kita mencaci, maka itu yang akan kita dengar, jika kita memuji maka pujianlah yang kita dengar, jika kita menghargai, maka penghargaanlah yang akan kita terima.
**************
Jika kita mengharapkan yang terbaik, maka lakukan hal-hal yang terbaik pula.
Agustus 13, 2008
Mengucap Syukur
Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu.
Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang,kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya,"Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis
sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."
* * * *
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah.Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.
Hidup adalah anugerah
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang
membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang
yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak
ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di
wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada
di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu, dengan penuh rasa syukur dan Iklas.
NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN
TERULANG LAGI!
________________________________________________________________________
Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang,kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.
Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya,"Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"
Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis
sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."
* * * *
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah.Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.
Hidup adalah anugerah
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.
Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.
Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.
Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang
membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.
Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang
yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.
Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.
Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak
ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.
Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di
wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada
di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu, dengan penuh rasa syukur dan Iklas.
NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN
TERULANG LAGI!
________________________________________________________________________
Juni 01, 2008
Kejujuran
Gambar disebelah kita ibaratkan tissue putih yang bersih tanpa noda, yang setiap orang ingin menggunakannya untuk berbagai keperluan. banyak orang begitu membanggakan tissue itu, karena selain putih tissue itu juga harum.
Gambar Sebelah adalah gambar tissue, sama halnya seperti tissue diatas, hanya tissue ini ada noda atau kotoran ditengahnya, dimana kotoran ini kotoran tinta atau noda tinta.Lalu Pertanyaannya adalah, apakah tissue itu masih bisa digunakan? Jawabanya, tentu saja masih bisa digunakan, kita hanya cukup melipat tissue itu, maka noda itu tidak akan kelihatan, karena kotoran itu lebih kecil atau sedikit dari tissue bersih yang tersisa.Sekarang coba kita imajinasikan, seandainya kotoran kecil diatas tadi adalah TELEK LINCUNG (kata orang jawa) atau TAI BELEK (kata orang bali) atau TAHI AYAM, pertanyaannya lalu "apakah anda masih mau menggunakannya tissue itu?",
Kalau saya sih pasti gak mau, karena selain jijik juga bau sekaliii............
Dalam perjalanan hidup kita, dari kecil hingga dewasa, dari lajang hingga menikah, dari anak-anak hingga menjadi orang tua, dari belum berkerja hingga berkerja, pastilah dalam perjalanan itu kita berproses dan dalam kita berproses sudah pasti kita akan melakukan hal-hal yang benar juga hal-hal yang salah, sama halnya tissu putih diatas, akan mulai ada noda-noda kecil, selama kita berfokus pada hal-hal yang benar atau positif, maka kita pasti akan berkembang, entah itu lambat atau pun cepat.
yang terpenting adalah, dari sekian banyak noda yang ada, jangan sampai terkena noda Tahi ayam tadi (ketidak Kejujuran).
Ya.... Kita ibaratkan Tahi Ayam tadi sama dengan ketidak jujuran, maka pasti kita sudah bisa bayangkan, bahwa tidak ada orang yang mau menggunakanya........ begitu orang tahu, maka akan langsung membuangnya. kita bisa saja menyembunyikan kotoran itu dengan cara melipatnya, tapi yang namanya kotoran ayam pasti bau lah..., demikian halnya dengan ketidak jujuran, kita bisa saja menyembunyikan karena orang lain belum tahu, atau karena kita memang pintar menyembunyikannya, tapi yakinlah lambat laun pasti akan ketahuan, dan TAMAT lah riwayat kita, karena tidak ada seorang pun yang mau menggunakan tissue yang ada tahi ayamnya..... ya to........? ya iya lah, masak ya iya dech....
Kenapa orang begitu membenci Telek Lincung...? karena telek lincung bukan hanya membuat bau pada tempat yang ditempeli, tapi telek lincung membuat sekelilingnya juga menjadi bau, demikian halnya dengan ketidak jujuran bukan hanya merugikan temannya tapi akan meluas dia akan merugikan sekelilingnya. ketidak jujuran adalah bau busuk yang akan membuat hidup kita tidak nyaman, tidak akan pernah tenang, maka sepahit apapun itu, maka tetap lebih baik kita berlaku JUJUR dimanapun, kepada siapa pun.
______________
Mei 17, 2008
Sumpit Cina

Pada suatu kesempatan, Pagi yang cerah, seorang teman lama main kerumah, beliau seorang yang tergolong memiliki prinsif hidup yang kuat, maklum beliau berlatar belakang pendidik. Dalam perjalanan hidup Beliau yang penuh dengan lika-liku dan perjuangan demi satu pembuktian bahwa setiap manusia berhak dan bisa menjadi yang terbaik asalkan mereka mau berusaha.
Seperti anak muda pada umumnya, Beliau tidak luput dari cerita kenakalan, urak-urakan, suka berkelahi, namun beliau seorang yang analitik. hingga beliau masuk bangku kuliah beliau disadarkan pada satu kenyataan bahwa yang menjadi juara kelas adalah seorang wanita, beliau merasa malu sekali, selama ini menganggap diri jagoan, pintar, tapi kenyataannya kalah oleh seorang wanita, akhirnya saat itu juga beliau memutuskan bahwa semester depan Beliau harus jadi juara. Mulai saat itu beliau berusaha keras, menata diri, tekun belajar, hingga pada semester berikutnya Beliau benar-benar bisa meraih Juara 1.
Hingga memasuki dunia baru yaitu dunia rumah tangga, beliau menjadi instruktur komputer di beberapa LPK dan instruktur panggilan, setiap hari beliau bisa mengantongi Rp. 30.000 dari hasil mengajar, hasil yang cukup besar pada saat itu tahun 80an, karena kesibukan kerja demikian juga istri, maka setiap hari mereka tidak sempat masak dan akhirnya jajan setiap hari. merasa mudah mendapatkan uang, maka beliau kurang perhitungan dalam membelanjakan uangnya, beli ini, beli itu, hingga akhir bulan hasilnya 0 (Nol). hal ini berlangsung beberapa tahun, hingga pada suatu saat merenung, kenapa kehidupan saya hanya jalan ditempat padahal saya punya hasil yang lumayan.
Suatu saat beliau sharing dengan beberapa teman atas kondisi beliau, seorang teman mengatakan begini "Pak Lihatlah orang cina, Orang cina makannya pakai sumpit" artinya apa? Orang cina kalau pendapatanya 5, maka 2 untuk dimakan sementara yang 3 ditabung. Bedahalnya dengan kita, "Kita makannya pakai tangan", artinya, Kita kalau dapat penghasilan 5, langsung dimakan semua.
Kita sering terpola seperti itu, dapat penghasilan lebih, langsung ganti HP, Ganti Motor, Ganti Mobil, Beli TV Baru, beli Kulkas, Jalan-jalan dan lain sebagainya, sehingga berapapun penghasilan kita, kita tidak akan pernah merasa cukup, kalau sudah begitu maka sulit sekali membesarkan otot syukur. kehidupan ini menjadi berat karena keluhan akan mendominasi hidup kita. kalau kita sadari bukankah bahagia atau sengsara itu adalah pilihan. kita menjadi sengsara jika kita mengijinkannya.
Langgan:
Entri (Atom)
