Juni 10, 2010

Berikan yang terbaik, dapatkan yang terbaik

Rekan-rekan yang LUAR BIASA……

Apakah Anda sedang sibuk saat ini, pekerjaan menumpuk, banyak beban menghimpit, berkejar-kejaran dengan waktu dan target?, Ditengah kesibukan itu, bagaimana sikap kita sebaiknya? Mengeluh? Atau bersyukur?
Menurut saya bila kita menginginkan yang terbaik, maka kita seharusnya bersyukur…. Kenapa? Bersyukur karena kita diberi kesempatan untuk memiliki semua tools untuk menjadi lebih kuat, lebih trampil, lebih cekatan, lebih mahir mengelola waktu, sehingga otot-otot kita terlatih dengan semua beban tersebut, syaraf-syaraf otak kita selalu berkativitas sehingga memperkecil potensi stroke dan berbagai penyakit fisik dan psikilogis. Bersyukur karena kita berada pada lingkungan yang sangat dinamis, bersyukur karena kita diberi kesempatan lebih awal untuk mengetahui banyak hal dan menguasai banyak hal, mungkin saja diluaran sana dibutuhkan banyak uban dikepala, butuh berkorban rambut untuk sampai pada kesempatan yang kita miliki sekarang…… Rasakanlah betapa kita mesti bersyukur atas karunia besar ini.

Rekan-rekan yang pandai bersyukur…… Saya paling suka nonton film laga (jetli, jekichen, dan film-film laga cina lainnya), mungkin ada rekan-rekan yang memiliki selera yang sama. Biasanya diawal Aktor menjadi looser dengan berbagai penderitaan, penghinaan, cemoohan, dan setelah sang Aktor menemukan impiannya, menyatakan komitmennya, selanjutnya berlatih keras, hingga pada akhirnya jadi pemenang. Meskipun ini hanyalah sebuah sandiwara yang telah disusun sekenarionya oleh sang sutradara, namun telah banyak dibuktikan kebenaran oleh kebanyakan orang, perjuangan dan komitmen pada proses dan hasil akan menghasilkan buah yang manis, bahkan bukan sekedar buah namun include dengan pohon yang indah yang terus menghasilkan buah-buah yang manis sepanjang masa selagi kita mau memupuk dan merawatnya, Pohon ini adalah Jiwa dan raga kita, dengan cabang-cabang yang indah (cabang cinta kasih, cabang syukur, cabang kebahagiaan, cabang keberlimpahan), iklaskah kita menjadi pohon seperti ini?

Rekan-rekan yang telah dipenuhi aura kebahagiaan dan keberlimpahan ……….. Ijinkan saya bercerita prihal perjalanan hidup saya yang biasa-biasa saja bila dibandingkan rekan-rekan semua. Saya dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga petani yang sangat rendah hati disebuah pelosok desa dengan kehidupan yang seadanya layaknya seorang petani. Bangun pagi masak, sekolah berjarak 7km, datang sekolah pergi ngarit, ngurus ternah, menimba air, membersihkan halaman, dan masih segudang kegiatan fisik yang melelahkan, karena aktifitas itu berlulang dan berulang selama kurang lebih 10th, hingga timbul hayalan-hayalan yang semakin kuat hingga menjadi impian yang sangat jelas dalam pandangan dan pikiran saya, impian punya istri cantik, punya rumah sendiri, punya penghasilan diatas rata-rata, punya mobil, menyekolahkan adik-adik, dan sejuta impian lainnya, walaupun saya bukanlah pribadi yang cerdas namun tetap saya beranikan diri untuk mempertahankan impin-impian itu, dan saya semakin mantap ketika saya temukan kata-kata bijak yang pas untuk kondisi saya “Keuletan dapat mengalahkan kecerdasan” hal ini yang saya rasakan menuntun langkah-langkah saya, bertemu seorang sahabat pembelajar, ke Jogja bersama dan mulai merajut impian bersama. Tahun 1997 satu demi satu impian itu terwujud, menjadi pengusaha loundry, Pengusaha rental, bimbingan jarak jauh, jual-beli komputer yang berkembang pesat dengan cabang-cabangnya, punya motor sendiri, punya penghasilan yang cukup, punya istri cantik, bisa menyekolahkan adik-adik, bisa membantu keuangan orang tua, punya mobil, punya rumah, bisa berkumpul dan bersahabat dengan orang-orang sukses. Tentu cerita terakhir terlihat sebagai cerita yang indah dan manis, yang sebenarnya dalam perjalanannya ada bumbu-bumbu duka, kerja keras, pengorbanan, mungkin juga air mata doa. Bersyukur pada usia yang terhitung muda saya mengenal hukum sebab akibat, yang membuat saya mampu bertahan ditengah terpaan badai kehidupan yang terkadang dapat meluluhlantakan apapun, badai persahabatan, badai dunia bisnis, badai rumah tangga. Dengan sikap berani mengambil semua itu sebagai tanggungjawab kita, maka yakinlah semuanya akan berbuah manis pada waktunya, berani mengakui sebuah kesalahan sebagai kesalahan kita, maka kitalah yang akan memetik keindahaan hasilnya. Jangan pernah mengambil hak orang lain walaupun kita mampu, dan berikan hak orang lain meskipun mereka tidak meminta.

Sahabat Pembelajar…… Ketika kita ikut memikirkan apa yang kita dapat dari apa yang kita lakukan, maka kehidupan ini mulai tampak rumit, ruwet dan sepertinya tidak bersahabat. Menurut saya lakukan saja apa yang menjadi kewajiban kita, lakukan saja apa yang seharusnya bisa kita lakukan dengan segenap potensi yang kita miliki tanpa pamrih dan keluhan, maka yakinlah Tuhan yang maha bijaksana akan memberikan apa yang menjadi bagian kita beserta bunga-bunganya, beserta bonus-bonusnya dengan sangat sempurna.
Saya mohon ijin untuk kembali bercerita perjalanan hidup saya atas prinsif-prinsif yang saya anut…. Pada tahun 2004 bisnis yang saya bangun bersama sahabat terbaik saya harus menjalani perawatan di ICU, ini adalah kali pertamanya bisnis kami mengalami guncangan yang maha dasyat sehingga terpaksa dilakukan operasi amputasi, dengan kesepakatan yang manis, pada beberapa bidang bisnis kami, kami sepakat untuk berteduh pada payung yang berbeda, saya berteduh pada payung yang lebih kecil meskipun berada pada cuaca yang sama. Tingginya gunungan hutang yang harus saya ratakan membuat tantangan yang besar pada prinsif-prinsif yang saya anut, bersyukur saya berhasil tampil sebagai pemenang, saya gunakan seluruh pusaka yang saya miliki termasuk mengiklaskan Rumah yang menjadi tempat berteduh bagi saya, istri dan anak-anak. Dengan himpitan beban yang demikian besar kami tetap mampu mempertahankan prinsif-prinsif kami, semenjak kami berhasil melewati masa kritis itu, kami merasa buah-buah keberuntungan itu selalu tersedia untuk kami sekeluarga. percaya bahwa ada rejeki yang dititipkan Tuhan pada kita untuk orang lain, maka berikan hak mereka, jangan pernah bersikap takabur atau sombong bahwa apa yang kita dapatkan karena keberuntungan kita, karena kerja keras kita saja, sehingga menampik peran dan buah baik orang lain. Mungkin saja bibit orang lain yang dititipkan Tuhan pada lahan kita, karena orang lain tersebut belum memiliki lahan dan sekarang berbuah, sebagai pemilik lahan tentu kita berhak atas share hasilnya, namun tentunya tidak seluruhnya. Dengan pola pikir ini, maka kami merasa mendapat prioritas untuk diselamatkan lebih cepat, meskipun saat ini belum sehebat rekan-rekan semua, Rumah kami telah dikembalikanNYA, mobil kami telah diganti, dan rumahtangga kami dilengkapi dengan bunga-bunga keindahan yang menebarkan aroma wangi (setidaknya ini menurut kami), saat kami berniat menyumbang pembangunan tempat ibadah dengan segera kami diberikan tambahan sebuah sepeda motor gratis melalui undian cabutan atas pembelian mobil, ketika kami memikirkan agar karyawan kami mendapat penghasilan yang diatas rata-rata, maka segera kami diberikan profit diatas target ditengah pasar yang sedang lesu. Pertanyaannya sekarang apakah kita memiliki jiwa keberlimpahan terlebih dahulu baru akan mendapatkan keberlimpahaan? Atau kita mendapatkan keberlimpahan terlebih dahulu baru kita akan memiliki jiwa keberlimpahaan? Saya tentu tidak berhak memaksakan salah satunya untuk Anda, Pilihan terbaik ada ditangan Anda…….

Salam Jiwa Keberlimpahan
Made Sumiarta
http://premaananda.co.cc

Januari 21, 2010

Pasrah atau Manja

Terkadang kita salah membedakan antara pasrah dan percaya pada kuasa Tuhan dengan manja, malas dan tidak mau belajar. Untuk lebih mudah memahami mari kita buat satu ilustrasi yang sederhana, kita ibaratkan Dunia ini adalah meja makan yang telah tersedia berbagai hidangan lengkap dengan catatan bahan-bahannya beserta kandungannya, dimeja makan juga sudah dilengkapi dengan manual yang didalamnya berisi petunjuk, mana saja makanan dan minuman yang berbahaya untuk dimakan, mana makanan dan minuman yang baik untuk dimakan, mana makanan yang yang menyehatkan, mana makanan yang membuat kita bisa sakit, bagaimana cara makannya, alat apa yang digunakan untuk memindahkan makanan tersebut ke mangkok atau piring, alat apa saja yang digunakan untuk menyantapnya, bagaimana cara makannya, bumbunya apa saja, bagaimana etika makan bersama, dan lain sebagainya, begitu lengkap sehingga tidak ada kesalahan jika kita membaca terlebih dahulu manual tersebut, yang terjadi paling kekakuan/kikuk karena belum terlatih. Ketika kita telah duduk dikursi meja makan, Sang Pemilik Hidangan telah mempersilahkan untuk menikmati dengan terlebih dahulu Sang Pemilik hidangan mengharuskan kita untuk mempelajari manual dan catatan-catatan yang ada di meja makan tersebut agar tidak terjadi kesalahan yang akan merugikan kita sebagai penikmat.

Jika kita kita sederhanakan kehidupan kita dan dunia ini serta Tuhan, maka Meja makan adalah Dunia, penikmat adalah Kita dan pemilik hidangan adalah Tuhan. Tuhan telah menyiapak Meja makannya (dunia ini), menyediakan Hidangan yang sangat lengkap (alam beserta isinya), menyediakan manual (Agama, kita suci, dan tuntunan kehidupan lainnya).

Namun sering sekali kita sebagai manusia (penikmat) tidak mengindahkan apa yang diwajibkan oleh pemilik Hidangan (Tuhan) sebelum kita menikmati hidangan, kita langsung main sikat, makanan yang mengandung racun, makanan bervitamin sikat semua, bahkan yang seharusnya kita menggunakan alat tertentu pun kita tidak indahkan, yang seharusnya menggunakan alas agar tidak merusak meja tidak dilakukan sehingga meja menjadi rusak dan belepotan, lalu siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut?

Disisi lain ada yang begitu pemalu, hanya duduk pasif, tidak membaca panduan (belajar), tidak juga mengambil hidangan (tindakan), hanya menunggu sementara yang lain telah mulai membaca panduan (belajar), mulai menikmati hidangan (action), walau beberapa dari mereka melakukan kesalahan dan sang pasif ini mentertawakannya, namun dengan kegigihannya mereka akhirnya bisa menikmati berbagai hidangan sementara sang pasif ini hanya terus berdiam diri, mungkin dalam hati dia berharap sang pemilik hidangan (Tuhan) mengambilkannya dan menyuapinya, ya ampun..... Hidangan yang sudah tersedia, tinggal menikmati masih berharap disuapi?

Dalam kehidupan kita sering sekali melihat ada orang-orang seperti ini, bahkan mungkin saja kita kadang kala termasuk didalamnya. Dunia ini sudah diciptakan dengan begitu lengkapnya, semua kebutuhan untuk kita hidup telah disediakannya, kita tinggal belajar bagaimana cara menikmatinya, bagaimana mengali, dan mengambil tindakan, mengerakan tangan, kaki, badan dan pikiran kita, Apakah kita berharap Tuhan juga melakukan semuanya? Apakah kita berharap hal tersebut atas nama "Pasrah, Nrimo, Iklas,dsb", Apakah pengertian Pasrah, Nrimo, Iklas itu hanya berharap tanpa berbuat? Atau bahkan hidup tanpa harapan sama sekali dan hanya menunggu apa yang terjadi?

Kita bertanggung jawab atas diri kita sendiri, Kredibilitas kita adalah hasil dari penilian terhadap diri kita sendiri, bukan karena orang lain, bukan karena suami, istri, anak, orang tua, teman, tetangga, dll. Pernah dengar penilaian orang seperti ini :
"Istrinya baik sekali, tapi sayang suaminya berangasan". "Suaminya Pintar cari uang, tapi sayang istrinya boros", "anaknya rajin sholat, orang tuanya malah suka mabuk", "orang tuanya alim sekali tapi anaknya ugal-ugalan", " dia sih baik tapi temannya itu lho nyebelin", "kasian bapak yang baik itu, tinggal bersama tetangganya yang cerewet-cerewet". Saya yakin sekali kita pernah mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu. Itu menunjukan bahwa betapapun kita punya orang tua yang baik, punya istri yang pintar, punya saudara yang pengertian, namun penilaian terhadap diri kita tetap karena perbuatan kita, tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri, jadi jangan tunggu orang berbuat baik dulu baru kita berbuat baik,dst. Dimata Tuhan pun kita dinilai karena diri kita, amal baik atau dosa kita dihitung dari perbuatan kita bukan karena perbuatan orang lain, karena Tuhan tidak pernah salah posting (istilah akuntansi).

Maka, mari kita lakukan yang terbaik karena kita dan untuk diri kita sendiri, jangan pernah melakukan sesuatu karena orang lain karena akan timbul PAMRIH (tidak iklas), karena apapun yang kita lakukan semua dalam rangka memperbanyak rekening debet kita (rekening positif) baik untuk kepentingan horizontal maupun vertikal.

Semoga dapat menginsfirasi
Salam,
Made Sumiarta

Maret 04, 2009

November 27, 2008

Mental Juara

suatu ketika saya nonton TV yang membahas tentang perawatan kuda Pacuan, menurut liputan itu biaya perawatannya mahal sekali, dan kalaupun kuda itu dijual juga mahal sekali. kuda itu begitu mendapat perhatian yang sangat spesial, kebersihan kandang terjaga, makanan terjaga dan diperhatikan gizinya, setiap waktu-waktu tertentu dicek kesehatanya, diberi vitamin, setiap pagi diajak jalan-jalan menghirup udara pagi, wow... spesial sekali, seolah-olah kuda ini tidak akan pernah merasakan penderitaan seumur hidupnya.

Pada kesempatan lain, saya nonton pacuan kuda, saya pikir inilah perlombaan kuda-kuda mahal itu, saya mau lihat bagaimana kuda-kuda yang begitu dimanjakan itu akan bertanding?. setelah melihat beberapa saat saya kaget juga, gak terpikir oleh saya ternyata penunggangnya tega memecut kuda itu, menghentak-hentakan kaki dan tanggannya seolah memaksa kuda itu untuk berlari lebih kencang.... lebih kencang.... dan lebih kencang, dan anehnya kuda yang biasa dimanjakan itu menuruti kemauan penunggangnya, dia lari tambah kencang.... tambah kencang.....dan tambah kencang....... dan akhirnya dia jadi pemenang........... wow... ngak nyangka ya.... gimana ceritanya dia bisa begitu tangguh padahal disisi lain kuda itu begitu dimanjakan, kenapa ketika kuda itu dihentak-hentak, diteriak-teriakin.... hea...hea.... hea.. kuda itu gak marah ya? gak ngambek... gak keluar arena...gak banting penunggangnya, atau berbuat yang engak-engak.....tapi tetap fokus pada garis finish.

Menurut saya sih sesuai namanya "Kuda Pacu", pastilah kuda itu kuda pilihan dan sudah ditempa sehingga memiliki mental juara. kalau di andaikan dengan manusia, pastilah ini manusia-manusia pilihan, pemimpin minimal pada komunitasnya, pemimpin perusahaan, dan pemimpin-pemimpin yang lain, yang memiliki mental juara, yang siap menerima pujian dan senang menerima kritikan. pemimpin seperti ini akan selalu mencari masukan, mempelajari kelemahan kepemimpinannya, menjadikan kritik sebagai cambuk pemacu, yang terpenting buat pemimpin-pemimpin seperti ini adalah kemenangan, kesuksesan dalam kepemimpinan yang berarti kesuksesan Lembaga.

Kata Pujanga "Keberanian yang sesungguhnya adalah seperti layang-layang, semakin kencang angin bertiup, semakin tinggi ia terbang", tentu bukan berarti semakin sombong dan angkuh, tapi tiupan anginlah yang akan membawanya terbang semakin tinggi, kritik, saran, masukanlah yang akan menghantarkannya menuju kesuksesan dan dekat dengan kesempurnaan kepemimpinan.selama Ia masih mau berpegang kuat pada senar/benang yang membuatnya terbang terarah, indah dan dapat dinikmati, maka Ia akan menjadi layang-layang yang diharapkan banyak orang, bukan layang-layang yang putus, terbang liar dan tidak tahu akan jatuh dimana. Demikian halnya Pemimpin, selama Ia masih mau berpegang pada Visi dan Misi, Ia akan menjadi pemimpin yang diharapkan banyak orang, yang dapat menjadi sandaran harapan semua stakeholder.

Keuletan adalah seperti bayi yang sedang belajar berjalan, bengkit lebih banyak dibanding jatuh, maka kesuksesan adalah milik kita.

Salam Sukses

November 26, 2008

N.g.e.l.o.n.j.o.r

Selalu ada Hikmah dari sebuah kejadian, perpindahan susah dan senang dari satu tempat ke tempat lain. Naiknya market Notebook meningkatkankan penjualan pemain notebook, dan sedikit mengurangi pasar PC. Dulu ketika dollar 2.800 naik jadi 12.000, mendadak teman saya yang gak punya mobil bisa beli mobil karena Dia punya tabungan Dollar dan dia adalah salah satu orang yang mendapat keuntungan dari naiknya kurs dollar, sementara itu disisi lain puluhan pengusaha terkapar. Teman reseller saya mengatakan, dengan naiknya kurs dollar yang mengakibatkan naiknya harga barang dalam bentuk rupiah menjadi berkah baginya karena waktu kurs dollar setabil dia kalah bersaing dengan toko-toko besar yang pasang harga gila-gilaan, menjual harga yang sama kepada User dan Dealer, karena dollar naik, maka harga-harga menjadi tidak stabil dan karena harga yang tidak stabil, maka user menjadi sulit memperbandingkan harga hari ini dan besok, maka teman saya itu akhirnya bisa jualan dengan keuntungan yang lumayan. Banyak orang takut dengan gelombang, tapi tidak halnya dengan peselancar yang justru menunggu gelombang besar.

Sebuah kejadian akan selalu melahirkan pahlawan sekaligus pecundang, selama kita bisa bersahabat dengan lingkungan menjadikan kompetitor sebagai partner, mengurangi arogansi karena berbadan besar, mau sedikit menilik keluar melihat akibat dari kebijakan-kebijakan yang kita buat ternyata banyak makan korban, mau mengurangi umpatan, makian orang lain karena terganggu dengan strategi yang kita terapkan, maka yakinlah, layaknya orang tua bertangung jawab atas masa depan anaknya, maka demikian halnya TUHAN akan bertangung jawab atas Nasib kita, tinggal kita mau terima gak bentuk tanggung jawab Tuhan yang mungkin dalam bentuk lain.

Setiap kejadian akan mendewasakan kita dan membuat kita lebih bijaksana, orang yang pernah jatuh akan lebih bijaksana memandang kehidupan ini. Tidak sombong pada saat berjaya, tidak kejam saat berkuasa, tidak menjadi pelupa pada orang lain saat terkenal, dan tidak memberi vonis abadi, bahwa setiap orang berhak untuk berubah.


(dibaca saat melamun gak ada kerjaan, ketimbang ngelonjor “Ngelamun Jorok”)

Salam,
Made Sumiarta
http://prema-ananda.co.cc

Oktober 16, 2008

Lakukan yang terbaik untuk Hidupmu

Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri
*************
Rekan-rekan sekalian, dalam kehidupan nyata banyak kita temukan hal senada, misalnya didunia dagang, ada yang menjual daging ayam mati, kenapa mereka menjualnya, karena toh yang makan bukan dia, Bakso yang dicampur daging tikus, hiii.... dengarnya aja sudah bikin mual, lalu kenapa orang tega menjualnya, mungkin jawabanya ya sama... karena toh yang makan bukan mereka, coba tanyakan kepada mereka yang menjual bakso yang dicampur daging tikus apakah mereka juga makan bakso itu? saya rasa jawabanya sudah pasti tidak.
Hal ini mungkin bisa menjadi satu bukti, bahwa tidak ada yang lebih peduli akan kehidupan/masa depan kita selain kita sendiri, atau sebaliknya "kita hanya tertarik pada diri kita sendiri, kita tertarik kalau berbicara prestasi kita, kehebatan kita, masa depan kita, bahkan pendapat kita sangat dipengaruhi oleh kepentingan kita, pengetahuan kita, dan hal-hal lain yang terkait dengan diri kita.
************
Karyawan menginginkan hasil yang terbaik dengan usaha yang minim, demikian juga bos. sehingga muncullah konflik yang pada akhirnya menurunkan kinerja personal maupun lembaga.lalu mata rantai itu berputar terbalik, lembaga tidak untung, sehingga tidak mampu memberikan yang terbaik untuk karyawan terlebih pada pemilik, lalu siapa yang paling dirugikan dalam hal ini? kalau kita tanya ke masing-masing pihak pastilah mereka yang mengaku paling dirugikan, itu artinya semua pihak akan dirugikan, apa penyebab hal ini, jawaban yang pasti adalah karena salah memberi beban nilai pada hak dan kewajiban
************
Apa kewajiban dan hak Karyawan? apa kewajiban dan hak lambaga (Bos)? hal ini tentunya sudah dibicarakan sebelum terjadinya ikatan kontrak kerja, namun secara umum kewajiban karyawan adalah memberikan kinerja yang terbaik, hak karyawan adalah menerima yang terbaik sesuai dengan kapasitasnya. lalu kewajiban lembaga adalah memberikan konpensasi yang terbaik, dan haknya adalah menerima yang terbaik dari karyawan sesuai dengan kapasitas yang diberikan.
Jika sekarang kedua belah pihak melupakan haknya dan sama-sama mengedepankan kewajibannya bukankah semua pihak akan menerima hak secara otomatis.
************
Pada Prakteknya banyak pihak saling menunggu untuk memberikan yang terbaik, lembaga menunggu kinerja terbaik karyawan dan karyawan menunggu konpensasi terbaik dari lembaganya. namun secara statistik kita semua harus sadari, bahwa jumlah lembaga yang tersedia dimuka bumi ini dengan jumlah pencari kerja (karyawan) yang ada, jumlahnya sangat jauh berbeda, jumlah pencari kerja jumlahnya ribuan kali lipat dibanding jumlah lembaga/perusahaan yang ada, dengan demikian tentunya perusahaan/lembaga lebih punya banyak pilihan untuk memilih karyawan yang terbaik.
************
Terlepas dari semua hal diatas, pada hakekatnya kita terlahir ke dunia ini untuk berbuat/ karma, sehingga kita mendapatkan hasil atas perbuatan kita atau atas apa yang kita perbuat (Pala). apapun yang kita lakukan pada dasarnya untuk kita sendiri, untuk kehidupan kita, untuk amalan kita, walaupun sepertinya kita melakukannya untuk orang lain, tapi sebenarnya akan kembali berpulang pada kita. misalnya kita memberi makan seorang anak gelandangan, sepertinya apa yang kita lakukan tadi untuk orang lain, tapi pada dasarnya kita berbuat itu semua untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra tentang siapa kita (kita orang baik), kita orang yang pengasih, untuk mendengar ucapan terimakasih yang tulus yang membahagiakan hati kita. dan jika kita percaya pada keberuntungan, keberkatan, kebahagiaan dunia akhirat, surga, maka untuk itulah kita melakukannya.
Demikian halnya dalam dunia kerja, kita melakukan pekerjaan dengan baik, jujur dan berprestasi, kita berpikir kita melakukannya semata-mata hanya untuk menguntungkan perusahaan, sehingga kita MINTA untuk dihargai. Padahal apa yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri, untuk membangun citra kita dimata lembaga, masyarakat terlebih di mata TUHAN. Perkataan kita, sikap, perbuatan, pola pikir kita akan mencitrakan tentang siapa kita, kita ingin dikenal dengan citra seperti apa. apakah kita ingin dikenal sebagai orang yang menyenangkan, orang yang tulus (tidak itungan), orang yang cerdas, orang yang bisa dipercaya, orang yang bisa diberi tanggungjawab, atau kita ingin dikenal sebagai orang yang tidak performance, sulit diajak kerja sama, keras kepala, berbahaya. semua itu sangat bergantung bagaimana kita mencitrakan diri kita. Hanya orang yang peduli pada nasibnyalah yang akan peduli pada orang lain dan lingkungannya.
*************
Kita semua tentunya pernah menjadi orang yang ikut menentukan apakah seseorang layak menjadi rekan kerja kita, menjadi pemimpin kita, dsb. misalnya kita mungkin pernah ikut dalam pemilihan kepala desa, tentunya kita punya kreteria sebelum menentukan pilihan. ternyata demikian halnya didalam sebuah lembaga, untuk penentuan kenaikan Gaji, kenaikan Jabatan, pemberian penghargaan, lembaga akan menilai dari berbagai aspek, baik aspek pribadi maupun aspek profesional. apapun yang kita lakukan akan akan menjadi buah untuk diri kita. semua yang ada diluar diri kita adalah cermin untuk kita, ia memantulkan bahkan gerakan sekecil apapun yang kita lakukan, jika kita menjulurkan lidah kita, maka itu yang akan kita lihat dihadapan kita, jika kita mencaci, maka itu yang akan kita dengar, jika kita memuji maka pujianlah yang kita dengar, jika kita menghargai, maka penghargaanlah yang akan kita terima.
**************
Jika kita mengharapkan yang terbaik, maka lakukan hal-hal yang terbaik pula.

Agustus 13, 2008

Mengucap Syukur

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu.
Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang,kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya.Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya,"Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?"

Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis
sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya."

* * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah.Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.


Hidup adalah anugerah
Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar - Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu - Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suami atau isterimu - Ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan meminta pasangan hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke surga.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu - Ingatlah akan seseorang yang begitu mengaharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Sebelum engkau bertengkar karena rumahmu yang kotor, dan tidak ada yang
membersihkan atau menyapu lantai - Ingatlah akan orang gelandangan yang tinggal di jalanan.

Sebelum merengek karena harus menyopir terlalu jauh - Ingatlah akan sesorang
yang harus berjalan kaki untuk menempuh jarak yang sama.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu - Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Sebelum engkau menuding atau menyalahkan orang lain - Ingatlah bahwa tidak
ada seorang pun yang tidak berdosa dan kita harus menghadap pengadilan Tuhan.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu - Pasanglah senyuman di
wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada
di dunia ini.


Hidup adalah anugerah, jalanilah, nikmatilah, rayakan dan isilah itu, dengan penuh rasa syukur dan Iklas.

NIKMATILAH SETIAP SAAT DALAM HIDUPMU, KARENA MUNGKIN ITU TIDAK AKAN
TERULANG LAGI!

________________________________________________________________________